Pagi-pagi sudah dikagetkan oleh bunyi dering telepon. Dari seseorang. Yang begitu diangkat, tanpa “ba-bi-bu” langsung menghujani saya dengan pertanyaan-pertanyaan. Alamak, kaget.
Tidak, dia tidak memaki-maki atau berkata dengan nada yang keras. Hanya saja gaya bicara dan bahasanya agak sedikit “urakan” (in positive-way). Saya pun menduga, orang ini pasti berusia sekitaran 20-25 tahun (ukuran mahasiswa) – walaupun bisa saja saya salah. lol. Kami pun bertanya-jawab. Dia bertanya, saya menjawab. Gantian, sesekali saya yang bertanya dan dia menjawab. Comme Ci, Comme Ça :)
Selama pembicaraan, ada sesuatu yang mengusik pikiran saya. Orang ini sepertinya penasaran sekali. Seperti orang yang lagi “kebelet” atau seolah-olah seperti anak kecil yang kegirangan kepingin masuk sekolah dan bertanya kepada orang tuanya mengenai segala sesuatu tentang sekolah yang akan dimasukkinya. Kebayang?
Singkatnya, setelah sepeminuman teh (meminjam istilah Wiro Sableng, lol), percakapan melalui telepon itu pun usai. Saya sempat membicarakan hal ini sebentar kepada istri lalu setelah itu kembali tenggelam dengan pekerjaan yang mengasyikkan, memukul-mukul papan keyboard karena kesal dengan koneksi internet yang lambat sekali. Hehehe.
Selang beberapa jam kemudian, telepon saya kembali berdering. Yup, betul. Ternyata anak muda itu lagi yang menelepon. “Pak, saya sudah di Plaza BSD nih. Terus kemana lagi, pak?“, tanya suara diseberang sana. Huh? Seriusan nih? Halah, dalam 1 hari dikejutkan oleh orang yang sama. 2 kali. Akhirnya saya memberi “instruksi” arah ke tempat saya. Hati agak sedikit penasaran, bisa bertemu dengan anak ini.
Tapi sialnya, kali ini yang saya yang “kebelet” ke belakang. Nature call. Saya segera memberitahukan istri bahwa kami akan kedatangan seorang tamu. Byaaar. Keluar dari kamar mandi saya bergegas ke ruang depan. Lho, mana orangnya? Pulang? Yah, sudahlah kalau begitu. Sepertinya saya terlalu lama di kamar mandi. lol.
Istri saya bilang, anak muda itu berumur 19 tahun. Kuliah di perguruan tinggi anu jurusan anu. Jurusan yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kebahasaan. Anak muda itu bilang kepada istri saya bahwa dia berkeinginan untuk “mencoba” mempelajari bahasa Perancis. Ya, mencoba. Sebab ketika ditanya, dia sama sekali belum mengenal bahasa Perancis. Dan yang menarik, dia bilang bahwa dia mampu berbahasa Inggris dan Mandarin bahkan lanjutnya, sudah menyelesaikan dan mendapatkan sertifikat bahasa Mandarin (pada level tertentu, tidak begitu spesifik).
Wow, wunderbar!
Sangat terkesan. Anak muda ini sudah memiliki kemampuan 2 bahasa asing dan ingin menambahkan 1 bahasa asing lagi. Dilihat dari segi umur yang masih begitu muda. 19 tahun (semester 2 atau 4). Datang sendiri dengan menaiki motor. Mengurus segala sesuatunya sendiri. Belum lagi kesan yang saya tangkap ketika berbicara di telepon beberapa waktu lalu. Memang “sesuatu banget” deh anak muda ini.
Mungkin ada yang heran, kok saya segitunya sih. Lebay. Well, bisa jadi saya lebay :)
Tapi kalau boleh jujur, selama saya dan istri saya menjalakan “usaha kecil-kecilan” ini, hampir sebagian besar (60%? 70%?) yang datang kepada kami adalah orang tua anak (siswa) yang bersangkutan. Orang tua lah yang mengarahkan mereka untuk datang kemari dan belajar – bahkan ada anak (siswa) yang lebih tua dari anak muda yang saya ceritakan ini, datang bersama orang tuanya.
Jangan salah paham. Bukan maksud saya untuk berpolemik dengan para orang tua. Bukan itu inti tulisan ini. Yang jadi perhatian dan pertanyaan saya adalah motivasi dan wawasan yang jauh ke depan dari anak muda itu – melebihi dari apa yang bisa saya bayangkan. Sulit menjelaskannya. Ahhhh. . .. (mungkin anda bisa menjawabnya. saya sudah kehabisan kata-kata, lol)
Yang jelas, saya pribadi kagum kepada anak muda itu (sekaligus malu pada diri sendiri, yang banyak menghabiskan masa muda hanya dengan bermain-main). Di akhir tulisan ini, saya berkata pada diri sendiri, “Yuk ah, masa kalah sama yang muda-muda! Semangat!”
BSD, 05.01.2012
